Cara Dahlan Pilih Orang

Saya yang terkagum-kagum dengan Dahlan Iskan, suatu ketika memiliki pemikiran begini: Mengapa beliau bisa sukses, di manapun posnya? Apakah itu sebagai CEO Jawa Pos, kemudian menangani beberapa BUMD yang sakit di Surabaya, juga ketika menjabat sebagai Dirut PLN, dan yang terakhir ketika menjadi Menteri BUMN.



Ternyata salah satu rahasia besarnya adalah: pintar memilih orang. Berdasarkan kualitas dan kapasitas. Dan bukan atas dasar balas jasa.

Misalnya ketika beliau ditawari sebagai Dirut PLN. Menurut informasi yang saya dapat, ketika itu beliau masih berstatus sebagai pasien transplantasi hati, harus bisa menjaga kondisi tubuhnya. Jangan sampai sakit. Sebuah posisi yang sangat sulit beliau terima, jika orientasinya hanya uang. Tapi karena ini panggilan negara, akhirnya beliau terima.

Posisi itu beliau terima, dengan syarat: Pertama, tidak mau menerima gaji. Kedua, tidak mau mendapatkan fasilitas negara. Dan yang ketiga, beliau menentukan sendiri orang-orang yang akan membantunya.

Nah, syarat ketiga, menurut saya, menunjukkan betapa berintegritasnya Dahlan Iskan. Beliau seolah-olah mematok harga mati: “Jangan ganggu saya (dengan menyarankan orang-orang yang tidak capable, atau sekedar melakukan balas jasa dengan posisi tertentu).”

Hasilnya? Saya bisa katakan: Memuaskan. Produktifitas naik. Kondisi keuangan sehat. Gebrakan di sana-sini yang berdampak terhadap meningkatnya pelayanan terhadap pelanggan.

Cara smart Dahlan dalam memilih orang itu, harusnya menjadi contoh pola perekrutan. Terutama pada posisi-posisi strategis. Namun, ketika saya membaca detik.com hari ini, pikiran saya oyong tak karuan.


Saya hanya berharap, si pengemban amanah, mampu melaksanakan tugasnya berdasarkan kemampuan.  Dan jauh dari intervensi manapun. Karena kalau tidak, apa bedanya dengan ‘posisi balas jasa.’ Bukan begitu kawan? (sap)


No comments