Sekolah Internasional, Uang Jajan Tradisional


Pemerintah New Zealand begitu memperhatikan pendidikan generasi mudanya. Karena menurut mereka, anak-anak merupakan masa depan.
Sehingga untuk mencapai itu, berbagai kebijakan dibuat. Di antaranya wajib belajar 13 tahun. Memastikan semua anak-anak bersekolah. Serta ini: meniadakan siswa keluar dari sekolah (drop out).
'Relationship' merupakan salah satu usaha yang dilakukan agar siswa betah dan nyaman bersekolah.
Guru dilatih untuk terus membimbing dan terlibat dalam keberhasilan belajar siswa. Kemudian menyampaikan kemajuan belajarnya kepada orang tua dalam sebuah forum khusus, yang dilakukan sebanyak dua kali dalam satu tahun.
Bimbingan itu juga berlaku bagi 'Unruly Students'. Siswa yang dirasa ndablek. Susah untuk diatur. Dan kurang tertib.
Kepada mereka juga diberikan mentoring. Bukan hanya temporary. Namun permanen. Setiap siswa ditangani oleh satu orang guru, yang akan membimbing mereka selama masa sekolah.
Bimbingan itu termasuk permasalahan belajar, pribadi, peminatan, dan lain sebagainya.
Namun ada yang menarik bagi saya. Meskipun mereka negara yang cukup maju, namun para siswa tidak diberikan terlalu banyak uang saku.
Matthew, salah seorang siswa yang saya tanyakan, menuturkan bahwa ia hanya menerima $10 perpekan untuk uang sakunya. Kalau dirupiahkan sekira Rp. 90.000 perminggu.
Jumlah yang mengejutkan. Karena di Indonesia, ada siswa yang diberikan uang saku mininal Rp. 20.000 perhari.

2 comments: