Prolog Novel: Dodi (Perjuangan Penderita Gagal Ginjal)


“Itu Allah mak. Itu Allah…” telunjuk Dodi lurus mengarah ke lampu kamar. Bola matanya tak berhenti bergulir. Kepalanya terus beringsut. Sesekali diangkat. Lalu dibanting-banting ke bantal. Membuat selang oksigen yang berapit di kedua lubang hidungnya terlepas.

“Astaghfirullah. Kenapa naaak. Kenapa Dodi….Istighfar nak…istighfar…,” membulat mata mamak menatap. Tersentak menyaksikan putra keduanya itu tiba-tiba meracau. Padahal beberapa menit yang lalu masih bermanja minta disulang.

“Tolong panggilkan buk Iyus, Del…” lirih mamak kepada istriku yang mendekat. Jemari kanannya menyeka keringat di kening. Lalu merapikan poni Dodi yang jatuh menyungkup. Matanya yang kebingungan menyapu sekujur tubuh. Menahan sekuat tenaga tubuh lemahnya Dodi yang mulai meronta.

“Gejalanya udah persis sama kayak mendiang kak,” bisik bu Iyus sambil merapat. Tangan kanannya beberapa kali menurunkan tulang kering Dodi yang diangkat-angkat.

“Sebelum cuci darah, mendiang Ayi juga sempat ngamuk-ngamuk kayak gini. Dikira orang malah gila. Apalagi waktu dia teriak-teriak. Berdiri-berdiri di atas ranjang rumah sakit. Memanjati tiang infus. Capek menenangkannya,” kenang bu Iyus.

Matahari hampir tenggelam. Sinarnya sudah temaram. Kawanan awan hitam membuat gelap datang lebih cepat.

“Dadi piye iki yaah… ora tegel aku ndelok awak’e mengko dicucok-cucok jarom…” meringis mamak dengan bahasa ibu. Meminta pendapat adik bungsunya, Juariyah di ujung telepon. Suasana di rumah masih gaduh. Sudah tak terhitung berapa kali dinding kamar meresonansikan racauan Dodi.

Mamak sudah tahu tindakan medis apa yang seharusnya diterima Dodi. Namun mengenang tubuh Om Ayi yang ditusuk jarum. Yang panjang dan ukuran diameternya hampir sama dengan jarum jahit karung. Kemudian melihat darahnya terhisap masuk ke mesin seukuran kulkas satu pintu. Lalu disalurkan kembali ke tubuh melalui pembuluh darah yang ada di pangkal leher atau paha. Membuatnya takut. Tak rela jika Dodi harus menjalani terapi itu. Hemodialisa. Cuci darah.

Apalagi anggota keluarga tahu. Orang-orang di sekitar lingkungan juga tahu. Om Ayi senasib dengan wak Murad. Yang meninggal setelah dua kali cuci darah. Atau wak Ran, yang meninggal sehari setelah cuci darah. Meskipun om Ayi sempat satu tahun lebih menjalani terapi cuci darah, namun usianya tak panjang.

Umur adalah hak mutlak milik Allah. Tidak ada yang sanggup membantahnya. Karena itulah mamak berusaha keras menjalani perobatan alternatif untuk Dodi. Berharap sembuh tanpa harus cuci darah, dan nasibnya lebih baik dari om Ayi. 

Bilal masjid tengah bersiap mengumandangkan azan Maghrib saat aku tiba. Suasana di halaman rumah sudah ramai. Teriakan Dodi di dalam kamar mengundang tetangga untuk datang mencari tahu.

“Udah kayak gitu adikmu bang. Telepon ambulans aja lah. Bawa cepat ke rumah sakit,” sergap bu Iyah begitu aku melangkah masuk. Dodi masih meracau. Masih menunjuk-nunjuk bohlam di atas plafon kamar. Lalu meminta siapapun wanita yang dilihatnya tanpa kerudung, untuk menggunakan hijab. Hampir 7 jam dia begitu.


Mamak melihat dari kejauhan. Tatapannya nanar seperti menyerah. Mungkin ia teringat dengan ucapan professor Harun 6 bulan lalu. Ketika kami datang ke praktiknya, membawa Dodi yang sudah sangat lemah. Dengan menunjukkan map berisi hasil pemeriksaan darah.

“Gini ya bu, setiap orang pasti akan mati,” buka professor Harun setelah membaca hasil pemeriksaan darah Dodi ketika itu.

“Orang yang sakit gagal ginjal kronis tapi tidak menjalani cuci darah, bisa mati. Dan yang sudah menjalani cuci darah, belum tentu cepat mati. Banyak kok orang yang sakit gagal ginjal dan harus menjalani terapi cuci darah bisa hidup normal. Pasien saya malah ada yang pulang cuci darah kembali melanjutkan kerja. Bahkan ada yang bisa main futsal. Sudah 20 tahun mereka begitu.”

Dingin malam terasa mencekik. Gerimis turun membasahi jalanan di depan rumah. Dari kejauhan seorang tetangga berteriak: “Maaannn…ambulansnya udah datang.”  Di belakangnya seorang lelaki melintasi aspal yang lembab. Gemeretak roda stretcher mengikuti langkah kakinya yang panjang dan tergesa. Dia baru berhenti tepat di depan pintu kamar Dodi.

“Aku mau sembuuuhh…..aku nggak mau mati…iii…..,” seperti hendak menangis Dodi berteriak saat diangkut menuju ambulans. Kabar sakitnya memang sudah merebak hingga sudut kampung. Orang-orang berdatangan dan berkerumun di sepanjang jalan dari rumah menuju ambulans. Untuk melihat Dodi yang katanya: Sudah tak waras. 

No comments