Badan Usaha Milik Sekolah




Pemerintah punya proyeksi baru untuk SMK. Yaitu terjadinya kemandirian finansial. Agar sekolah bisa berdikari. Mempunyai penghasilan sehingga mampu membiayai kebutuhan operasionalnya sendiri. Dan tidak tergantung pada dana BOS.

Maka agar bisa berpenghasilan itu, SMK diperbolehkan berusaha. Kalau dulu namanya Unit Produksi (UP). Lalu muncul program sejenis yang telah disempurnakan, namanya Teaching Factory (TeFa).

SMK-SMK yang memenuhi syarat melaksanakan TeFa digelontorkan bantuan. Nilainya, lumayan. Tahun 2019 ini saja ada 500 SMK yang diproyeksikan menerimanya.

Maka setelah menerima dana bantuan itu, SMK tersebut diwajibkan berbenah. Sumber daya manusianya diupgrade. Fasilitasnya didandani. Kondisi dan lingkungannya harus beraroma industri.

Sehingga jangan heran, kalau anda melihat Workshop SMK TeFa yang jurusan otomotif, kondisinya sudah mirip dengan bengkel miliknya Astra.

SMK TeFa diharapkan mampu menghadirkan proses produksi pada pembelajaran. Sehingga menjadi pabrik yang ada di dalam sekolah.

Untuk menjamin proses produksi itu berjalan lancar, maka digandenglah DUDI. DUDI yang selama ini cuma temannya SMK, ditingkatkan statusnya menjadi pacarnya. Atau teman hidupnya SMK.

Nah, SMK yang berhasil melaksanakan program TeFa, maka kondisi sekolahnya semakin hidup. Bantuan peralatan dan pelatihan guru jadi lebih bermanfaat. Aktifitas pembelajaran semakin menggigit. Akibatnya, sekolah itu jadi makin berkelas. Karena ada faktor pembeda di situ.

Namun bagi yang gagal, tiada kesan selain menjadi penikmat pasif bantuan pemerintah.

Lalu bagaimana dengan nasib SMK non TeFa?

Itulah yang dalam beberapa bulan ini tengah kami rintis.

Bermodal selembar MoU yang telah ditandatangani Walikota dan petinggi PT AHM, saya berkomunikasi secara intensif dengan seorang kepala bengkel jaringan servis sepeda motor Honda. Agendanya ini: Membuka unit produksi jasa servis sepeda motor dengan diskon khusus. Yang dikerjakan oleh beberapa mekaniknya, dengan bantuan siswa kami.

Untuk menarik minat pelanggan, saya mengusulkan ada harga khusus. Yang lebih murah 10-20 % dari harga resmi bengkel. Dan alhamdulillah diterima.

Maka berjalanlah unit produksi ini. Dua orang mekanik dan satu orang kepala bengkel standby di workshop sekolah. Mengerjakan sepeda motor pelanggan. Sekaligus membuat mereka tenang dengan pesan: sepeda motor mereka dikerjakan mekanik sungguhan. Dan tidak dijadikan sebagai bahan praktik siswa.

No comments