Meremas Pasir. Mengunyah Remahan Genteng. Dan Menggerogoti Tembok




Jelas ini sebuah tantangan. Meski saat pertama mengetahuinya, saya bagai ingin meremas pasir. Atau ingin mengunyah remahan genteng. Bingung. Sambil terus mencari tahu salahnya di mana.

Mereka ini pelajar yang sudah 9 tahun belajar. Atau yang akan segera tamat itu. Tahun depan.

Tapi, mengapa matematika dasarnya loyo sekali. Padahal itu 'makanan' siswa SD. Kelas IV.

Gimana tidak dibilang loyo, menjumlahkan dan mengurangkan bilangan desimal saja bingung. Apalagi perkalian jalan ke bawah. Belum lagi operasional yang lebih rumit lainnya. Semisal mencari hasil pengakaran. Atau mengkonversi satuan panjang.

Masuk ke jenjang SMK memang untuk meningkatkan skill. Tapi, mengabaikan skill numerasi juga tak tepat. Karena pasti ada hubungannya dengan pelajaran teknik.

Siapapun gurunya, pasti akan mencoba bijak menemui kejadian ini. Menyelaraskan ritme belajar. Menyesuaikan irama kelas. Agar semua siswa terangkut ke dalam kapal muatan kurikulum. Yang terus berubah.

Pertanyaan besar lantas menggelayut. Kok bisa ya?

Saya yakin setiap anak pasti ada potensinya. Lemah di satu sisi, bisa jadi akan kuat pada sisi yang lain. Itu yang membuat saya optimis. Sambil melupakan kunyahan remahan genteng itu tadi.

Tapi ketika melihat mereka terus membuang sampah sembarangan. Tidak bisa antri. Padahal sudah diperingatkan berkali-kali. Rasanya kok ingin menggerogoti dinding tembok.

No comments