Punahnya Pedagang Peron




Kereta Api merupakan angkutan dengan tingkat perubahan yang paling radikal. Kalau anda tak percaya. Tanyakan saja pada pelanggan setianya. Yang sudah berpergian dengan sepur. Sejak medio 1980an hingga sekarang.

Salah satu perubahan yang masuk kategori radikal itu adalah ini: Meningkat pesatnya kenyamanan penumpang sejak dari area peron hingga gerbong.

Karena area itu sudah ‘clear’ dari serbuan pedagang asongan. Yang wilayah operasinya berada di sepanjang selasar peron. Dekat gerbong. Hingga masuk ke dalam gerbong penumpang.

Sejak berubah status menjadi perseroan pada tahun 1999, kereta api memang terus berbenah. Transformasi besar-besaran terjadi pada sistem ticketing. Sistem boarding penumpang. Kebersihan pada area peron dan gerbong. Ketepatan waktu. Dan itu tadi: kenyamanan.

Menghilangnya pedagang dari area peron hingga gerbong, memang membuat penumpang merasa lebih nyaman. Bebas berisik. Kebersihan terjaga. Dan perkeretaapian di Indonesia, jauh lebih berkelas.

Yang lantas menjadi pertanyaan. Kemanakah perginya ribuan pedagang peron itu? Beralih profesikah mereka? Andailah mereka berhenti berdagang. Lantas bagaimana dengan ekonomi keluarganya? Sekolah anak-anaknya? Biaya kesehariannya?

Padahal. Banyak masyarakat yang merindukan kehadiran pedagang peron itu. Mereka yang berjualan dengan menu yang berbeda. Bisa menunjukkan identitas daerah dan stasiun. Serta dari mana mereka berasal.

Misalnya. Kalau sudah terdengar suara: “Lemang….lemang. Lemang panasnya kaaak.” Tanpa melongok keluar pun, penumpang sudah tahu bahwa saat ini mereka tengah berada di stasiun Tebing Tinggi.

Demikian juga dengan pecal siram yang khas stasiun Perlanaan atau Kisaran itu. Atau burung goreng yang biasanya dijual sejak dari stasiun Teluk Mengkudu hingga Perbaungan.

Fenomena punahnya pedagang peron, semoga tidak terjadi kepada mereka. Yang berjualan di sepanjang jalan regular lintas sumatera. Yang kabarnya semakin sepi. Karena pelintas lebih memilih melalui jalan tol.

Sambil berharap. Mereka semua mampu beradaptasi. Menemukan konsumen baru pada pasar yang lain. Sehingga ekonomi mereka terus bertahan.

Sehingga tidak menjadi miskin struktural. (sap)

sumber foto: jalancerita.com

No comments