Wanita di Kamar Lantai 19




Singapura. Pertengahan September 2018.

Perjalanan kami diwarnai oleh kisah-kisah mistis. Yang melibatkan sosok misterius. Bikin merinding. Dan terjadi pada beberapa kamar hotel. Di lantai 19.

Yang lantas membuat kami heran dan makin penasaran. Rentetan peristiwa aneh itu terjadi pada area yang sama: kamar mandi hotel.

Seperti yang diceritakan Pak Prima. Dia kebetulan ditempatkan sendiri. Tidak memiliki tandem sekamar. Seperti saya dan teman-teman yang lain.

Kamis malam menjadi puncak keanehan yang terjadi di kamarnya. Saat itu, sudah lewat tengah malam. Sekujur badan pria asal Malang itu, mendadak berat. Ia bisa merasakan itu, meskipun sedang tidur.

Dalam lelap tidurnya. Pak Prima berusaha untuk sadar. Ia tahu. Bahwa dalam mimpinya, dirinya sedang diganggu oleh sosok tinggi besar. Seperti  Genderuwo.

Lama berusaha, akhirnya pak Prima terbangun. Ia akhirnya terlepas dari sosok yang membuat badannya berat. Hingga keringat dingin. Dan tak mampu bergerak. Orang Jawa menyebut ini sebagai ketindihan (tindien).

Gangguan itu tak lantas berhenti. Begitu membuka mata, pak Prima mendengar suara gemericik air di kamar mandi. Seperti suara orang kencing. Padahal tak ada siapapun. Hanya ia sendiri yang ada di kamar itu.

Suara gemericik itu dilanjutkan dengan suara air dari kloset. Yang biasa digunakan untuk membilas kotoran saat buang air.

Merasa penasaran, pak Prima mendatangi kamar mandi itu. Pintu kamar mandi dalam keadaan tertutup. Lampunya juga padam. Dan setelah dibuka: Eng…Ing….eng…. Ternyata tidak ada siapa-siapa. Kamar mandi kosong melompong.

Ia lantas turun ke lantai dasar. Untuk merokok dan menidurkan kembali bulu kuduknya. Yang sedari tadi berdiri. Padahal saat itu sudah jam 2 pagi. (Bersambung)

https://www.banyakcakap.com/wanita-misterius-di-kamar-lantai-19-bagian-1/

Dua hari setelahnya. Kami bersepakat mengunjungi Sentosa Island. Karena hari libur. Tidak ada jadwal kuliah.

Setelah sejak pagi mengunjungi kawasan teluk Marina, beberapa dari kami kembali ke hotel. Untuk makan siang. Melepas penat. Sambil mengganti pakaian. Termasuk yang  dilakukan Pak Arifin dan Ikhsan. Keduanya ditempatkan dalam kamar yang sama.

Begitu sampai di kamar hotel. Pak Arifin mempersilahkan Ikhsan untuk beraktifitas terlebih dahulu. Ia lebih memilih rebahan. Sambil menikmati saluran internasional di TV, yang disediakan pihak hotel.

Suara pancuran air dari shower terdengar jelas. “Pasti itu Ikhsan yang sedang mandi,” pikir pak Arifin.

Sepuluh menit berlalu. Pak Arifin dengan sabar menunggu. Karena suara air itu masih ada.

Tiga puluh menit setelahnya, pak Arifin mulai penasaran. Mengapa pak Ikhsan tidak segera keluar dari kamar mandi. Ia lantas bergegas. Menghampiri pintu kamar mandi.

“Pak Ikhsan….pak Ikhsan….sudah dari kamar mandinya. Saya mau wudhu..” kata pak Arifin. Dari luar kamar mandi.

Hembusan angin dari kisi-kisi penyejuk udara terasa makin kencang. Membuat kulit pak Arifin mengeriput. Entah karena dingin, atau: merinding.

Tidak juga ada tanggapan dari dalam kamar mandi. Padahal sudah lima kali ketuk. Penasaran, pak Arifin membuka pintu itu dengan paksa.

Dibuka perlahan, pak Arifin tak menemukan siapapun. Apalagi pak Ikhsan. Yang dia kira masih ada di kamar mandi. Padahal, uap akibat air hangat dari shower masih ada. Meninggalkan jejaknya di dinding kaca. Dan cermin datar yang ada di depan westafel.

Dihantui penasaran, Pak Arifin menelepon Irfan. Ia ingin memastikan semuanya baik-baik saja.

“Halo, pak Irfan di mana? Kok saya nggak melihat bapak keluar dari kamar mandi?” tanya pak Arifin.

“Loh. Saya dari tadi masih di Marina Bay pak. Belum ada balik ke hotel,” jawab Irfan.

Pak Arifin makin bingung. Ia penasaran. Berbagai pertanyaan muncul.

“Jadi, sosok siapakah yang sedari tadi sliwar-sliwer melintas. Dan menggunakan kamar mandi?”

Cerita mistis seperti tadi juga dialami pak Absori.

Kejadiannya mulai Jumat. Beberapa hari sebelum akhir masa studi kami di negeri, yang tabu mendengar nama Usman dan Harun itu.

Kalau terhadap teman lain, sosok misterius itu pasif, tidak dengan yang dialami oleh pak Absori. Entah jenis apa. Namun kelihatan sangat aktif.

Waktu itu beliau sedang sendiri. Di kamar. Karena baru saja pulang dari kampus.

Menjelang maghrib, ketika baru terbangun dari istirahat singkatnya. Pak Absori merasa ada yang aneh dengan sebuah kursi. Yang letaknya persis di depan kaca rias.

Tanpa ada yang menyentuh, kursi itu bergerak sendiri. Menjauh dari meja. Menuju lemari . yang jaraknya lebih dari dua meter.

Dari balik selimut, pak Absori memperhatikan gerakan kursi itu. Perlahan demi perlahan. Jantungnya berdegup. Matanya tak sanggup berkedip. Kulitnya merinding.

“Saya ingin lari, tapi bingung mau lewat mana,” katanya kepada kami. Yang mengerumuninya saat tengah menikmati coffe break.

“Kalau pas Jumat malam lebih seram,” kata pak Absori.

Menurutnya, seperti ada orang di dalam kamar mandi saat dia masuk ke dalam kamar.

“Saya kira itu pak Ahmad Zaki,” katanya. Menyebut nama teman satu kamarnya itu.

“Tapi setelah lama ditunggu, kok beliau (Pak Zaki) nggak keluar-keluar. Karena penasaran, pintu kamar mandi saya buka.”

Apa yang dilihat pak Absori saat membuka pintu itu malah membuatnya merinding. Sekaligus lari ketakutan.

“Ternyata nggak ada pak Zaki di dalam. Yang ada hanya uap air panas, dan tulisan ‘I LOVE’ pada kaca kamar mandi.”

Kami merinding.

Sejak saat itu, pak Absori tak pernah berani sendirian di dalam kamarnya. Di lantai 19. Yang diyakini dihuni oleh sosok wanita misterius.

No comments