Harapan Terakhir Serma Rama, Prajurit TNI yang Gugur di Kongo


Cerita pilu mengiringi gugurnya seorang prajurit TNI, Sersan Mayor (Serma) Rama Wahyudi. Almarhum gugur saat bertugas di Republik Demokratik Kongo, Afrika. Tergabung dalam pasukan MONUSCO, pasukannya diserang kelompok bersenjata pada Senin, 22 Juni 2020.

Serangan itu diduga dilakukan oleh kelompok Allied Democratic Forces (ADF). Yaitu gerombolan bersenjata yang tengah berkonflik dengan pemerintah Kongo.

Akibat serangan itu, Serma Rama meninggal setelah tembakannya menembus dada atas sebelah kiri.

Serma Rama Wahyudi meninggalkan seorang istri dan anak-anak yang masih kecil. Mereka tinggal di kampungnya di Kabupaten Kampar, Riau.

Baca Juga:
Inilah bupati yang punya 36 perusahaan. Umurnya baru 40 tahun. Ganteng. Kaya


Sebelum hari naas, Serma Rama sempat melepas rindu dengan keluarganya melalui video call.

“Terakhir kontak kakak saya dengan almarhum itu hari Minggu jam 9 malam. Mereka melakukan ‘video call’. Kemudian almarhum mengatakan nanti akan menghubungi kembali karena harus mengambil air karena saat ini krisis air di Kongo,” kata adik ipar almarhum Arfan Nur Fahri, sebagaimana dinukil dari Antara, Kamis, 25 Juni 2020.

Baca Juga:

Ini Video Polisi yang Tolak Laporan Anak yang Ingin Penjarakan Ibu Kandungnya


Rupanya itu adalah komunikasi terakhir dengan ayah tiga anak itu. Menjadi prajurit TNI adalah cita-cita besar Serma Rama yang berhasil diwujudkannya. Rama mulai mendapatkan tugas di Kongo beberapa bulan sebelum Idul Fitri. Itu merupakan tugas pertamanya ke luar negeri.

Serma Rama punya harapan bertemu keluarganya dalam beberapa bulan ke depan. Sayang, harapan tersebut tidak terwujud.

”Dia mengatakan bulan Agustus mendatang dapat cuti sebulan dan akan pulang. Tapi Allah berkehendak lain,” kata Arfan.

Keluarga sudah ikhlas melepas kepergian Serma Rama. Namun, mereka masih menunggu kedatangan jenazah.

Indonesia mengirimkan pasukan perdamaian sudah sejak tahun 1957. Hingga tahun 2018, sebanyak 36 personil telah gugur. Personil terakhir yang gugur Bripka Azis Sumanto, Jumat, 1 Juni 2018.

Akibat peristiwa itu, PBB bereaksi.

“Saya mengutuk keras serangan pengecut di Beni, kemarin yang menewaskan seorang anggota pasukan perdamaian asal Indonesia yang bertugas untuk MONUSCO,” cuit Kepala Departemen Operasi Perdamaian PBB, Jean-Pierre Lacroix melalui Twitter pada Selasa, 23 Juni 2020.

Lacroix memastikan aksi teror tersebut harus ditindak oleh aparat hukum. Dalam cuitan itu, ia juga menyampaikan rasa syukur kepada Pemerintah Indonesia karena senantiasa mendukung PBB dan Misi Perdamaian PBB. (antara)

No comments