Culun Indah

 


Saya ketemu teman lama. Alumni Astra. Yang sekarang banting setir menjadi abdi negara. Namanya: Indah. Tapi jenis kelaminnya laki-laki.

Dulunya bang Indah ini sales commercial vehicle. Marketing Astra Isuzu menyebutnya CV. Yang line up produknya diperkuat oleh Isuzu Elf. Yang banyak dijadikan truk ringan dan micro bus. Seperti yang digunakan pengangkutan antar kota KUPJ, Putra Melayu, dan Karya Agung.

Bang Indah inilah indikator saya harus masuk Astra.

Ketika itu saya tengah mengikuti seleksi melalui walk in interview. Saya peserta nomor 300-an di hari pertama, dari 3 hari yang disediakan. Saat proses wawancara, saya melihat bang Indah sedang duduk di depan PC. Membahas kami peserta seleksi dengan beberapa rekan kerjanya.

Mendengar dia bercerita, saya membatin: “Orang culun bersuara cempreng gini aja bisa diterima Astra. Masak aku nggak,” batin saya saat mendengar suara sedang antara tenor dan bariton dari bang Indah.

Namanya rekan kerja. Saya juga pernah terlibat konflik dengan bang Indah. Berskala sedang. Tidak seberat Hamas dan Zionis Israel.

Ketika itu dia memesan spare part kepada saya. Untuk customernya di daerah gunung. Di wilayah kerjanya, di Kabupaten Karo. Jenisnya baut roda.

Baut roda untuk Isuzu Elf ini berbeda pada tiap bagian. Depan kiri, depan kanan, belakang kiri, dan belakang kanan. Semua berbeda.

Nah, bang Indah tidak memberikan informasi detail tentang itu. Saya juga karena kesibukan sebagai part man tidak mengorder pesanan part yang tidak lengkap informasinya.

Waktu pun berjalan.

Pada hari ketiga belas, bang Indah menagih baut roda pesanannya. Saya sedang di atas Yamaha Scorpio Z tahun 2008 ketika telepon itu masuk.

“Sur. Mana baut rodanya. Kau kalok nggk mau orderkan pesanan abang bilang. Jangan kau gantung-gantung gini. Kasihan customer abang. Tut,” suara tenor yang meninggi di ujung telpon terputus. Bang Indah marah.

Beberapa tahun berikutnya saya dengar beliau resign. Saya kira karena tradisi di bagian marketing yang membuat karyawan in dan out. Rupanya karena beliau lulus sebagai abdi negara.

Nah, beberapa waktu lalu saya ketemu bang Indah di masjid Agung kota Binjai. Tidak ada yang berubah. Semuanya tetap sama. Ya semangatnya. Ya culunnya. Dan ya cemprengnya.

No comments